Cara Berjalan di Jalur Berlumpur Saat Mendaki Lembah

Jalur berlumpur membuat langkah lebih lambat dan rawan terpeleset, terutama di tanjakan miring dan akar yang tertutup tanah basah. Untuk melewatinya, pendaki perlu memilih alas kaki yang tepat, mengubah cara melangkah, dan membaca permukaan sebelum menapak.

Pilih alas kaki yang sesuai untuk tanah basah

Sepatu beroles karet dengan pola tapak dalam memberi cengkeraman lebih baik daripada sepatu bersol rata. Kedalaman alur tapak minimal beberapa milimeter membantu tanah lunak terlepas saat kaki diangkat, sehingga tidak menumpuk jadi bantalan licin.

Kalau memakai sepatu trekking biasa, periksa kondisi sol sebelum berangkat. Sol yang sudah tipis di bagian tumit dan depan cenderung kehilangan cengkeraman di lumpur. Untuk jalur yang memang dikenal becek sepanjang tahun, sandal gunung dengan tali pengikat di tumit lebih aman daripada sandal jepit karena tidak mudah lepas saat kaki terbenam.

Bawa satu pasang kaus kaki cadangan di dalam kantong plastik. Kaus kaki basah membuat kaki lecet dan mempercepat rasa dingin, dua hal yang paling sering memaksa pendaki berhenti di tengah jalur.

Ubah cara melangkah di permukaan licin

Langkah pendek dan pelan mengurangi risiko terpeleset. Di jalur miring, mendaratkan seluruh telapak kaki memberi kontak lebih luas dengan tanah dibandingkan berjalan jinjit seperti di jalur kering.

Turunkan titik berat badan sedikit dengan menekuk lutut. Posisi ini memang melelahkan untuk jarak jauh, jadi selingi dengan berhenti tegak setiap beberapa puluh meter untuk mengendurkan otot paha. Sebagian pendaki pemula justru mempercepat langkah saat melewati lumpur karena ingin segera keluar, padahal kecepatan tinggi membuat kaki sulit menyesuaikan pijakan.

Manfaatkan tongkat trekking untuk mengecek dasar lumpur sebelum menapak. Tusukkan ujung tongkat ke titik yang akan dipijak. Kalau tongkat tenggelam lebih dari sepanjang telapak tangan, cari jalur alternatif di pinggir, biasanya dekat akar atau bebatuan.

Tempat yang sebaiknya dihindari

  • Tanah yang mengkilap dan berwarna lebih gelap, tanda lapisan air tipis di atas lumpur.
  • Batang pohon tumbang yang basah, permukaannya jauh lebih licin daripada tanah.
  • Pinggiran jalur yang curam tanpa pohon pegangan.
  • Genangan dangkal yang menutupi lubang atau batu tajam di bawahnya.

Baca kondisi jalur sebelum berangkat

Hujan sehari sebelumnya sudah cukup membuat jalur lembah berlumpur, bahkan ketika pagi hari terlihat cerah. Tanyakan kondisi terkini ke pengelola jalur atau pendaki yang baru turun. Cara membaca cuaca gunung sebelum mendaki bisa membantu memperkirakan apakah jalur akan mengering atau justru makin basah selama perjalanan.

Kalau hujan turun saat pendakian, cara menghadapi hujan saat mendaki di lembah pegunungan menjelaskan pilihan berteduh dan kapan sebaiknya berbalik. Lumpur di jalur menanjak akan mengalir ke bawah, jadi bagian bawah tanjakan biasanya lebih licin daripada bagian atas.

Susun rencana turun sebelum masuk area berlumpur. Menuruni jalur yang sama saat tanah masih basah lebih berisiko daripada menanjak, karena gaya gravitasi mendorong tubuh ke depan dan kaki sulit mengerem. Sisakan waktu cukup agar tidak terburu-buru turun.

Jaga keseimbangan tubuh dan barang bawaan

Tas yang berat di punggung menggeser titik berat badan ke belakang, sehingga tubuh lebih mudah kehilangan keseimbangan di jalur miring. Kencangkan tali pinggang tas agar beban menempel rapat ke punggung dan tidak bergoyang mengikuti langkah.

Untuk jalur berlumpur yang panjang, letakkan barang berat seperti tenda dan air di bagian tengah tas, dekat punggung. Barang ringan ditaruh di bagian bawah. Susunan ini membuat tas lebih stabil saat tubuh menekuk di tanjakan.

Bebaskan kedua tangan. Kamera yang digantung di leher atau tas kecil di tangan mengurangi kemampuan meraih akar dan dahan saat kaki mulai tergelincir. Simpan barang bawaan di dalam tas punggung, termasuk botol minum yang sering dipegang saat berjalan.

Teknik bangkit setelah terjatuh

Terjatuh di lumpur jarang berbahaya, tetapi bangkit dengan cara salah bisa membuat pergelangan tangan atau lutut terkilir. Jangan menahan berat badan dengan tangan terentang lurus ke belakang. Tekuk siku dan bertumpu pada lengan bawah yang lebih dekat ke tanah.

Kalau memakai tas besar, lepaskan dulu satu tali bahu sebelum berdiri agar beban tidak menarik tubuh kembali ke bawah. Cari permukaan yang agak kering atau batu datar sebagai tumpuan kaki. Setelah berdiri, periksa apakah ada luka terbuka, lalu bersihkan lumpur yang menempel di telapak tangan karena dapat membuat pegangan pada akar jadi licin.

Rawat kaki dan sepatu setelah melewati lumpur

Bersihkan alur sol sepatu begitu mencapai tanah kering. Lumpur yang mengering di sela tapak mengurangi cengkeraman pada jalur berikutnya, dan di jalur berbatu kering justru membuat sepatu lebih mudah selip. Gunakan ranting kecil atau batu untuk mengeruk sisa tanah.

Keringkan kaki dan ganti kaus kaki saat istirahat panjang. Kulit yang terlalu lama lembap lebih mudah lecet, dan lecet di telapak kaki membuat sisa perjalanan terasa jauh lebih berat. Jemur sepatu di tempat teduh dengan mulut sepatu terbuka, jangan di bawah sinar matahari langsung karena bahan kulit dan perekat bisa cepat rusak.

Untuk pendakian beberapa hari, bawa kantong plastik khusus untuk menyimpan sepatu basah di luar tas utama. Sepatu berlumpur yang dimasukkan ke dalam tas membuat pakaian dan kantong tidur ikut lembap.

Perlengkapan tambahan yang berguna

Selain sepatu dan tongkat, beberapa barang kecil membuat jalur berlumpur lebih mudah dilalui:

  1. Gaiter atau pelindung kaki untuk menahan cipratan lumpur masuk ke sepatu.
  2. Handuk mikrofiber kecil untuk mengeringkan tangan sebelum memegang peralatan atau makanan.
  3. Kantong plastik bekas untuk membungkus sepatu kotor.
  4. Plester dan antiseptik untuk luka lecet akibat gesekan kaus kaki basah.

Kalau membawa obat-obatan pribadi, simpan dalam wadah kedap air di dalam tas. Untuk perjalanan lanjutan setelah trekking, panduan cara membawa obat ke pesawat bisa membantu menyiapkan aturan pembawaan cairan dan resep, terutama jika rencananya langsung terbang sepulang dari area pegunungan.

Jalur yang basah juga memperlambat perjalanan, jadi hitung ulang waktu tempuh. Jalur yang biasanya selesai dalam empat jam bisa memakan waktu enam jam saat lumpur tebal. Beri tahu pengelola jalur atau orang di rumah tentang perkiraan waktu tiba yang baru.

Ringkasan

Melewati jalur berlumpur di lembah pegunungan bergantung pada tiga hal: alas kaki bercengkeraman baik, langkah pendek dengan lutut sedikit menekuk, dan kebiasaan mengecek permukaan sebelum menapak. Bawa kaus kaki cadangan, bersihkan sol sepatu setelah keluar dari area berlumpur, dan sesuaikan perkiraan waktu perjalanan. Untuk jalur yang melewati aliran air, teknik menyeberangi sungai di lembah pegunungan dengan aman melengkapi persiapan di medan basah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah sepatu lari bisa dipakai di jalur berlumpur?

Bisa untuk jalur pendek dengan lumpur tipis, asalkan solnya masih punya alur tapak. Sepatu lari ringan dan cepat kering, tetapi kurang melindungi pergelangan kaki di medan miring dan berbatu. Untuk trekking beberapa hari, sepatu gunung dengan penutup pergelangan lebih aman.

Bagaimana kalau sandal gunung terlepas di tengah lumpur tebal?

Hentikan langkah dan cari tanah yang lebih padat untuk berdiri. Kalau sandal terbenam, gali pelan dengan tangan atau tongkat, jangan menarik tali secara paksa karena bisa putus. Setelah dipakai kembali, kencangkan tali lebih rapat dan periksa apakah ada batu masuk ke sela kaki.

Apakah jalur berlumpur selalu harus dihindari?

Tidak. Lumpur tebal sedalam mata kaki di tanjakan curam sebaiknya dihindari, terutama jika membawa beban berat. Lumpur tipis di jalur datar masih bisa dilewati dengan langkah pendek. Kalau ragu, cari jalur alternatif di pinggir yang lebih kering atau tanyakan pada pengelola jalur setempat.