Turun gunung sering dianggap bagian mudah karena tenaga habis justru di pendakian. Padahal cedera lutut, tergelincir, dan tersesat paling sering terjadi di jalur turun ketika konsentrasi mulai turun. Ikuti langkah berikut supaya cara turun gunung dengan aman tetap terjaga meski tenaga sudah terkuras.
1. Hitung ulang sisa tenaga dan waktu sebelum berangkat turun
Lihat jam dan perkirakan waktu turun. Jalur turun biasanya memakan waktu sekitar dua pertiga waktu naik, tetapi bisa sama lama kalau medannya licin atau lutut mulai nyeri. Sisakan waktu terang minimal dua jam sebelum gelap. Kalau sisa waktu mepet, putuskan turun lewat jalur terpendek yang sudah dikenal, bukan mencoba jalur baru.
Makan dan minum dulu sebelum berangkat. Tubuh yang kekurangan cairan lebih cepat kehilangan keseimbangan. Isi ulang air di sumber terakhir yang aman.
2. Pendekkan langkah dan tekuk lutut sedikit
Langkah kecil mengurangi beban benturan pada lutut. Tekuk lutut sedikit saat kaki menyentuh tanah, jangan mendarat dengan kaki kaku. Turunkan berat badan perlahan, bukan menjatuhkan diri dari batu ke batu.
Kalau membawa tongkat trekking, pakai keduanya dan atur panjangnya lebih pendek sekitar lima sentimeter dari saat mendaki. Tongkat membantu menyerap beban dan menjaga keseimbangan di tanah berkerikil. Bagi yang baru pertama kali mendaki, teknik dasar seperti ini dibahas lebih rinci di tips mendaki lembah pegunungan untuk pemula.
3. Atur ritme turun agar tidak memacu langkah
Keinginan cepat sampai bawah sering membuat langkah melebar dan tempo naik. Akibatnya lutut menerima beban berlipat dan risiko terpeleset meningkat. Tetapkan tempo yang bisa dipertahankan, misalnya berhenti dua menit setiap 20 menit berjalan.
Kalau salah satu anggota kelompok mulai tertinggal jauh, pelankan rombongan. Memecah kelompok di jalur turun mempersulit pertolongan saat ada yang cedera. Panduan mengatur tempo langkah secara lebih detail ada di cara mengatur kecepatan mendaki agar tidak cepat capek, dan prinsipnya berlaku sama saat turun.
4. Baca medan satu langkah ke depan
Arahkan pandangan ke titik pijak berikutnya, bukan ke kaki sendiri. Batu lepas, akar basah, dan pasir di atas batu keras adalah tiga pemicu tergelincir yang paling umum. Di jalur berkerikil, pilih pijakan di sela batu besar yang lebih stabil.
Saat melewati bagian curam, hadapkan tubuh ke tebing dan turun menyamping bila perlu. Di tanah berlumpur setelah hujan, jangan ragu merangkak pada bagian yang sangat curam.
- Uji batu atau akar dengan tangan sebelum dijadikan pijakan.
- Hindari melompat dari ketinggian lebih dari satu meter.
- Jangan berjalan berdesakan di jalur sempit.
- Berhenti di tempat lapang, bukan di tikungan buta.
5. Lindungi lutut dan pergelangan kaki
Nyeri lutut saat turun biasanya muncul karena otot paha sudah lelah dan beban berpindah ke sendi. Kalau mulai terasa, perpendek langkah dan turun lebih pelan. Pasang penyangga lutut bila sudah dibawa sejak awal.
Sepatu dengan sol yang masih mencengkeram sangat menentukan. Sol yang sudah tipis membuat kaki mudah terpeleset di tanah lembap. Kencangkan tali sepatu, tetapi jangan terlalu ketat agar peredaran darah di kaki tetap lancar.
6. Jaga suhu tubuh dan konsumsi energi
Angin di punggungan dan keringat yang mendingin bisa membuat tubuh cepat dingin. Kenakan lapisan jaket tipis saat berhenti dan lepas lagi ketika mulai berjalan. Makan camilan kecil setiap 45 menit, misalnya kacang atau buah kering, agar energi tidak habis mendadak.
Jika mulai pusing, mual, atau kehilangan koordinasi, berhenti di tempat aman. Gejala seperti ini bisa menjadi tanda dehidrasi atau kelelahan berat, dan memaksakan turun hanya memperbesar risiko.
7. Catat waktu dan kabari orang di rumah
Perkirakan jam sampai di titik akhir jalur dan kirim pesan saat sinyal tersedia. Kalau melewati batas waktu yang direncanakan, keluarga atau teman bisa segera menghubungi pengelola jalur. Simpan nomor darurat setempat sebelum berangkat, bukan setelah kejadian.
Saat melewati pos pemeriksaan, laporkan kedatangan. Kebiasaan ini membantu petugas tahu siapa yang masih berada di jalur.
8. Bersihkan diri dan periksa kaki di bawah
Ganti kaus kaki basah, periksa lecet, dan keluarkan kerikil dari sepatu. Lecet kecil yang dibiarkan bisa membengkak di perjalanan pulang. Bila memakai transportasi umum atau pesawat, baca juga cara memilih kursi pesawat agar perjalanan lebih nyaman supaya kaki yang pegal tidak menambah rasa tidak nyaman.
Kalau rencananya melanjutkan perjalanan ke kota lain sebelum pulang, atur waktu istirahat setidaknya satu hari penuh. Menyambung perjalanan dengan kaki yang masih nyeri membuat pemulihan lebih lambat.
9. Evaluasi jalur untuk pendakian berikutnya
Catat bagian jalur yang paling licin, sumber air terakhir, dan titik di mana sinyal hilang. Catatan sederhana di ponsel bisa menyelamatkan pendakian berikutnya. Simpan juga koordinat tempat camp yang dinilai aman agar tidak perlu mencari ulang lokasi.
Untuk kelompok yang mendaki berulang di lembah yang sama, memilih titik istirahat yang tepat sejak awal membuat jalur turun lebih terkendali. Rujukan memilih lokasi bermalam bisa dibaca di cara menentukan titik camp aman di lembah pegunungan.
Ringkasan
Turun gunung dengan aman bergantung pada sisa tenaga yang dihitung realistis, langkah pendek yang tidak membebani lutut, dan konsentrasi membaca medan. Perlengkapan yang mendukung serta laporan waktu kepada orang di rumah melengkapi langkah-langkah di atas. Informasi di sini bersifat umum; untuk kondisi medis tertentu seperti cedera lutut atau riwayat jantung, konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan sebelum mendaki.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa lama waktu turun gunung dibandingkan naik?
Umumnya sekitar dua pertiga waktu pendakian, tetapi medan licin atau kondisi lutut yang nyeri bisa membuatnya sama lama. Selalu sisakan waktu terang sebagai cadangan.
Apakah tongkat trekking wajib saat turun?
Tidak wajib, tetapi sangat membantu menyerap beban di lutut dan menjaga keseimbangan di tanah berkerikil. Kalau membawanya, atur panjang tongkat lebih pendek dibanding saat mendaki.
Apa yang harus dilakukan jika lutut mulai nyeri di tengah jalur turun?
Perpendek langkah, perlambat tempo, dan pakai penyangga lutut bila tersedia. Kalau nyeri disertai bengkak atau tidak bisa menopang berat badan, berhenti dan minta bantuan petugas jalur.